Persaudaraan yang dahulu kuat perlahan retak karena kepentingan pribadi dan konflik yang tidak diselesaikan dengan hati dingin. Ketika pembunuhan terjadi, luka yang ditinggalkan tidak pernah selesai hanya dengan waktu.
Keluarga kehilangan anggota, rasa dendam tersimpan bertahun-tahun, ada emosi dan kejengkelan yang tidak selesai oleh putaran waktu, dan masyarakat kehilangan rasa kemanusiaan.
Fase terendah sebuah daerah tidak hanya diukur dari sisi kemiskinan dan keterbelakangan, tetapi ketika manusia mulai kehilangan hati nurani. Saat perilaku merusak dan membunuh dianggap biasa maka daerah itu sedang dalam kehancuran kesejatian moral.
Dalam fase terendah ini nilai-nilai baik seakan jauh dari kehidupan bersama. Ketakutan dan kebencian menjadi budaya baru seolah hidup didaerah ini.
Tetapi dibalik semua peristiwa kelam dan tragis yang sedang terjadi ditanah seribu Moko ini, masih ada niat baik dan harapan dari kita semua untuk berbenah. Kita semua pasti memiliki harapan yang sama bahwa fase terendah dan terburuk ini cepat berlalu dan dilewati, sehingga suasana hidup bersama dalam damai kembali menemukan jalannya.
Perubahan hanya bisa lahir ketika masyarakat memilih untuk kembali pada nilai kemanusiaan, adat, persatuan dan penghargaan terhadap hidup. Sebab sebuah daerah tidak akan hancur hanya karena alam semata, tetapi karena manusia yang berhenti menjaga diri dan sesamanya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatAlor.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


