Sejumlah tokoh dan pejabat turut hadir dalam ibadah penahbisan. Di antaranya Ketua Sinode GMIT Pdt. Semuel B. Pandie, Wakil Ketua Sinode GMIT Pdt. Saneb Y. Ena Blegur, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTT Dr. Zet Sony Libing, jajaran Pemerintah Kabupaten Alor, anggota DPRD Kabupaten Alor, Majelis Klasis se-Tribuana, para pendeta GMIT, Rektor Universitas Tribuana Alor, pimpinan lintas agama serta jemaat setempat.
Gedung Gereja Harus jadi Ruang Pemulihan
Dalam khotbah yang mengambil dasar dari 2 Raja-Raja 2:1-5, Ketua Sinode GMIT Pdt. Semuel B. Pandie menyoroti makna perjalanan ziarah menuju Betel dan Yerikho.
Ia menekankan bahwa gedung gereja bukan sekadar bangunan fisik untuk melaksanakan ibadah, tetapi harus menjadi tempat perjumpaan manusia dengan Allah sekaligus ruang pemulihan bagi umat.
“Gedung gereja yang dibangun harus menjadi rumah Tuhan dan menghindari rumah berhala yang membawa manusia terjebak dalam dosa dan ego. Gereja harus menjadi ruang kejujuran, tempat saling mengakui kelemahan, saling mengampuni, serta menjadi ruang pemulihan dan penyembuhan bagi umat,” ujar Pdt. Semuel.
Pesan tersebut menjadi pengingat agar gedung gereja yang telah dibangun melalui perjalanan panjang dapat dihidupi dengan semangat pelayanan, persaudaraan dan kepedulian terhadap sesama.
Gereja Didorong Berdayakan Jemaat
Wakil Ketua Sinode GMIT Pdt. Saneb Y. Ena Blegur mengingatkan jemaat agar tidak melupakan sejarah panjang pembangunan gereja serta nilai teologis yang terkandung dalam nama Betlehem Lipa.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatAlor.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
